Minggu, 11 September 2011
Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa, hal ini berkaitan dengan bayi yang baru saja lahir denagn alat artikulasi dan aoditori yang normal.
Secara garis besar gangguan berbahasa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu gangguan akibat faktor medis dan gangguan akibat faktor sosial.
- Gangguan faktor medis adalah gannguan akibat fungsi otak maupun alat kelainan bicara dan pendengaran.
- Gangguan faktor sosial adalah gangguan akibat lingkungan kehidupan sosial manusia yang tidak alamiah, seperti tersisih atau terisolasi dengan lingkungan sekitarnya.
Adapun gangguan berbahasa menurut Shidarta (1984) dalam Tarmansyah (1996), dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu gangguan berbicara, gangguan berbahasa, gangguan berfikir.
1. Gangguan Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan motorik yang mengandung unsur psikis. Gangguan berbicara dapat dikkelompokkan ke dalam 2 kategori, yaitu gangguan mekanisme berbicara yang berakibat pada gangguan organik, gangguan bicara yang berakibat pada psikogenik.
- Gangguan mekanisme berbicara adalahsuatu proses produksi perkataan atau ucapan oleh kegiatan yang terpadu dari lidah, pita suara, otot-otot yang membentuk rongga mulut, kerongkongan, dan paru-paru. Gangguan ditandai dengan hilangnya suara tanpa kelainan sintakasis dan semantik. artinya ucapan bisa diterima atau dipahami.
- Gangguan akibat multifaktor bisa menyebabakan terjadinya gangguan berbicara, antara lain: - Berbicara sembarangan atau sembrono yakini berbicara dengan cepat sekali. -Berbicara populsif biasanya terdapat pada orang yang menderita penyakit Parkinson. penyakit yang bermasalah dengan gerakan, apabila sudah bergerak tidak berhenti-berhenti.-Berbicara mutis (mutisme) terjadi pada penderita gangguan yang kadang-kadang tidak berbicara sama sekali.
- Gangguan psikogenik tidak bisa disebut sebagai gangguan berbicara tetapi lebih pada variasi bicara, seperti: berbicara manja, latah, berbicara gagap, berbicara kemayu.
2. Gangguan Berbahasa
Setiap individu yang normal fungsi otak, alat bicara dan alat pendengaran tentu dapat berbahasa dengan baik. sedangkan mereka yang memilki kelainan tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa. untuk dapat berbahasa dengan baik tentu daerah bronca dan wernice pada otek juga harus berfungsi dengan baik. gangguan pada daerah tersebut yang menyebabkan gangguan berbahasa disebut afasia. oleh Benson (1975), Rapin dan Allen (1988) dalam Tarmansyah (1996) membagi afasia dan membedakan afasia reseptif atau afasia sensorik dan afasia ekspresif atau afasia motorik.
Setiap individu yang normal fungsi otak, alat bicara dan alat pendengaran tentu dapat berbahasa dengan baik. sedangkan mereka yang memilki kelainan tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa. untuk dapat berbahasa dengan baik tentu daerah bronca dan wernice pada otek juga harus berfungsi dengan baik. gangguan pada daerah tersebut yang menyebabkan gangguan berbahasa disebut afasia. oleh Benson (1975), Rapin dan Allen (1988) dalam Tarmansyah (1996) membagi afasia dan membedakan afasia reseptif atau afasia sensorik dan afasia ekspresif atau afasia motorik.
- afasia reseptif atau afasia sensorik yaitu anak kesulitan memberi rangsangan yang diterimanya. bicaranya spontan hanya kadang-kadang kurang relevan. misal mengatakan "buku" tapi diucapkannya "busa...bulu...bubu..."
- afasia ekspresif atau afasia motorik yaitu anak yang mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan atau menysun pikiran, perasaan, kemauan menjadi simbol-simbol yang dimengerti atau dipahami orang lain. misal anak ditanya rumahnya dia hanya menjawab "eehh...eehh...uuhh."
3. Gangguan Berpikir
Setiap orang mempunyai kecenderungan utuk mengatak hal-hal yang disuakainya sehingga corak bahasanya adalah khas baginya, hal ini biasnya disebut idiolek atau ragam bahasa perseorangan dimana seseorang menyratkan afeksi. gangguan verbal sebagai akibat dari gangguan pikiran antara lain:
- pikun (Demensia)
- Sisofrenik adalah gangguan berbahasa akibat gangguan berpikir. penderita ini biasanya bicara terus-menerus.
- Depresif
4. Gangguan Lingkungan Sosial
Maksudnya adalah terasingnya seorang anak dari lingkungan kehidupan manusia, namun berbahasanya normal. Keterasingan biasanya karena diperlakukan dengan sengaja bisa juga hidup bukan dalam lingkungan manusia tetapi hidup dipelihara oleh binatang serigala seperti kasus Kamala dan Mougli (Chauchard,1983 dalam Chaer,2003)
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)








